Search

Memuat...

SILABUS DAN RPP

CHAT

Tulisanku

Unduh Kurikulum 2013

Video

Senin, 12 Maret 2012

Batik Pekalongan

BATIK PEKALONGAN

Pekaoongan sebagai daerah penghasil batik mempunyai posisi tersendiri dibanding daerah lain. Hal ini disebabkan perkembangan batik Pekalongan sangat menonjol baik dari segi corak maupun tekniknya. Hal tersebut disebabkan perajin-perajin batik Pekalongan selalu mencari inovasi (pembaruan).

A. Sejarah Batik Pekalongan
     Sesuai dengan letak geografisnya, Pekalongan berada di pesisir utara Jawa sebelah barat. Dengan letak tersebut menyebabkan pertumbuhan batik Pekalongan abad ke-15 M tidak jauh berbeda dengan sejarah pertumbuhan batik di kota-kota pesisir Jawa di kawasan Timur. Daerah pesisir merupakan daerah lalu lintas ekonomi.
Perkembangan seni batik pesisiran juga dipengaruhi oleh budaya keraton sebagai pusat pemerintahan pada waktu itu. Keraton Cirebon pada masa itu telah menjadi kiblat budaya dan agama bagi penduduk kota-kota pesisir Jawa sebelah barat. Dalam sejarah batik pesisiran seperti Pekalongan, Tegal, Indramayu, Karawang, Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut, pola batiknya mengambil pola hias pada keraton Cirebon. Awal pengembangan batik Pekalongan dan batik Cirebon mempunyai hubungan yang erat.

Pola hias batik cirebon mendapat pengaruh dari bentuk ragam hias taman Sunyaragi dan Keraton Pakungwati. Bentuk taman Sunyaragi digambarkan tanah wadas meniru keadaan di negara Cina. Demikian pula pula bentuk mega mendung dan kontur ombak-ombak laut.

Batik Cirebon kuno beragam hias Sigobarong dan banyak nama-nama batik Cirebon lainnya yang mendapat pengaruh kuat dari peninggalan ragam hias bermotif seni Cina. Dalam pilihan warna, batik Cirebon telah mendapat pengaruh warna dari keramik biru dan putih. Meskipun ada warna-warna yang mencolok di luar biru dan putih, tetapi sejarah warna batik Cirebon dimulai dengan dua warna biru dan putih.

Batik Cirebon mengambil tema ragam hias pada bangunan Taman Sunyaragi dan Keraton. Batik Pekalongan lebih banyak dipengaruhi oleh pola ragam hias dari keramik Cina yang menghiasi bangunan keraton Kasepuhan dan Makam Raja-Raja Cirebon di gunung jati. Obyek lukisan keramik Cina pada dinasti Ming yang menjadi lambang kemegahan dan kekayaan keraton Cirebon rupanya menjadi perhatian perajin batik Pekalongan.

Perajin batik Pekalongan telah menempatkan hiasan keramik Cina ini sebagai ikatan kebudayaan leluhur. Pilihan pola ragam hias, seperti bunga persik, bunga rose, sulur daun, sulur pandan, dan teratai adalah ragam hias jenis flora yang sebagian besar menjadi obyek utama. Ragam hias semacam itu banyak di dapat pada lukisan keramik. Pola jenis fauna melengkapi ragam hias flora, seperti bentuk burung pipit, burung merak, ular naga ataupun kupu-kupu.

Itulah sejumlah jenis ragam hias yang sejak masa awal sudah menjadi pilihan perkembangan corak batik Pekalongan. warna-warna yang mencolok sangat kontras jika dibanding dengan batik pedalaman, seperti Yogyakarta dan Solo. Pilihan warna yang mencolok dari batik Pekalongan tampaknya tidak sekedar sebagai pelengkap pola hias. Adanya pengaruh warna keramik pada masa dinasti Ming yang hanya diproduksi pada abad ke-17 sampai 18. Selain biru putih juga diproduksi berbagai warna. Menurut filsafat Cina Kuno, warna-warna tersebut menyimbolkan makna keaktifan, kejantanan, dan keperkasaan,

Melalui simbol warna, hal itu diekspresikan dengan serba terang dan bergerak serta penuh variasi (dinamika). Melalui seni batik mereka memiliki tujuan ganda sebagai seni dan akulturasi terhadap keindahan tanah leluhur.
Namun sebelum ragam hias keramik Ming abad 17 mewarnai corak batik Pekalongan, bayik Pekalongan pernah mendapat penghargaan di tengah-tengah keluarga Cina ningrat, yaitu dari Ratu Roro Sumanding. Ratu Roro Sumanding adalah istri Sunan Cirebon Syarif Hidayatullah yang nama aslinya Ong-Tien.
Penghargaan ini diberikan karena karya-karya batik Pekalongan yang diadaptasi dari keramik telah membawa kebesaran nama dinasti Ming sebagai penguasa kerajaan Cina. Ming yang berarti cemerlang atau berkilauan.

Penghargaan terhadap batik Pekalongan oleh Keraton Cirebon selain ragam hias dari keramik Ming juga karena teknik pembuatannya yang berbeda dengan daerah-daerah lain pada zaman itu. Pada masa itu perajin batik Pekalongan menggunakan teknik pewarnaan melukis (colet). Sementara di daerah lain dalam membuat warna masih menggunakan teknik celup.Teknik colet mempermudah untuk mencapai pewarnaan yang dikehendaki sehingga setiap detail motif hias dapat dilukis dengan sempurna sesuai dengan yanh dikehendaki.
Teknik melukis warna melalui sapuan kuas (colet) bukan suatu hal baru. Teknik semacam ini berkaitan erat dengan kerajinan tangan (terutama kerajinan sutra dan porselin) di Cina pada kekaisaran Ming.

Dalam mata rantai perdagangan, bahan warna yang berupa indigosol, India merupakan negara pemasok utama bagi Cina. Bahan pewarna kain ini pada masa dinasti Ming didatangkan dari India. Menurut Ruffear, jalur perdagangan bahan pewarna tekstil mengikuti jalur lama, yaitu dari India ke Indonesia dan dari Indonesia ke Cina. Begitu pula sebaliknya. Jalur perjalanan Cheng-Ho ke Sumatera Barat yang di tulis Zheng He Xia Yang dimulai dari Nanjing (ibu kota). Kapal-kapal berlabuh di Qui-Nho melalui Cina Selatan langsung ke Jawa, kemudian ke Palembang, Samudra Pasai, dan Lamiri. Dari Lamiri baru ke Kalkuta (India) atau teluk Benggala (Bengali) dan perjalanan dilanjutkan ke Arab atau Afrika dan Eropa.

Dari hubungan perdagangan antar pulau dan antar negara yang melewati jalur laut itu, pedagang Pekalongan tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengetahuan baik teknis, bahan kain, maupun bahan pewarna. Hal itu karena Pekalongan termasuk kota pelabuhan, seperti Surabaya, Gresik, Tuban, Demak, dam Cirebon.
Pada tahun 1620, batik telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Pekalongan. Hampir setengah abad batik dirintis oleh pedagang Cina di kampung Sampangan. Pada ahun tahun itu para buruh pribumi mulai membuka usaha sendiri. Dr. Kusnin Asa mengatakan masa itu sebagai masa harapan dan kecemasan. Kondisi tersebut dipengaruhi kondisi politik oleh beralihnya status Pekalongan menjadi tanah perdikan di bawah kekuasaan kerajaan Mataram yang dari sebelumnya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon. Perpindahan status tersebut mengakibatkan masyarakat Pekalongan merasa diperlakukan sebagai daerah jajahan.

Pada periode ini juga mulai diberlakukan aturan pemakaian batik di mana masyarakat biasa dilarang memakai maupun memproduksi batik bermotif larangan (Awisaning Ratu/ Larangan Dalem). Batik dengan motif ini hanya boleh dikenakan oleh keluarga keraton. Meskipun Pekalongan pada masa Mataram dilarang memproduksi batik pola larangan, namun perajin di desa-desa masih membuat batik tradisi lama berpola kawung gringsing atau tumpal. Namun pembuatan batik ini tidak mempengaruhi pengembangan batik asli, seperti jlamprang atau batik campuran gaya Cina. Diskriminasipemakaian busana ini melahirkan kebencian kaum pedagang muslim dan Tionghoa kepada kaum priyayi penguasa. Sikap perlawanan masyarakat Pekalongan terhadap kekuasaan Mataram ini mempengaruhi munculnya corak-corak batik Pekalongan. Sikap perlawanan masyarakat Pekalongan tersebut menjadikan daerah tetangga sekitarnya menyebutnya dengan semboyan Merak Ngigel. Dalam bentuk visualnya motif merak ngigel digambarkan dengan simbol burung merak yang sedang menari sehingga memberikan makna sifat-sifat masyarakat Pekalongan yang tidak mau ditindas dan mandiri.

B. Motif Batik Pekalongan

Motif batik Pekalongan dicirikan dengan hal-hal berikut :
1. Pada beberapa motif batik Pekalongan yang klasik (tua) tergolong motif semen. Motif ini hampir sama dengan motif-motif klasik semen dari daerah Jawa Tengah yang lain, seperti Solo dan Yogyakarta yang terdapat ornamen bentuk tumbuhan dan garuda atau sawat. Perbedaannya pada kain klasik ini hampir tidak ada cecek. Semua pengisian motif berupa garis-garis.
2. Warna soga kain dengan motif dari tumbuhan. Pada kain batik klasik Pekalongan ini motifnya terdapat persamaan dengan kain batik klasik daerah Solo dan Yogyakarta.
3. Motif asli Pekalongan adalah motif jlamprang, yaitu suatu motif semacam nitik yanh tergolong geometris. Mungkin motif ini adalah suatu corak yang dikembangkan oleh pembatik keturunan arab karena pada umumnya orang arab yang beragama Islam tidak mau menggunakan ornamen bentuk benda hidup, misalnya binatang atau burung. Mereka lebih suka ragam hias yang berbentuk geometris. Namun Dr. Kusnin Asa berpendapat bahwa motif jlamprang merupakan pengaruh kebudayaan Hindu Syiwa.
4. Beberapa corak kain yang diproduksi di Pekalongan mempunyai corak atau gaya Cina seperti adanya ornamen Liong berupa naga besar berkaki dan burung Phoenix, yaitu sejenis burung yang pada bulu kepala, sayap, dan ekor berjumbai serta bergelombang.
5. Kain batik yang dikembangkan atau diproduksi oleh pengusaha batik keturunan Cina , gambar-gambarnya pada motif berupa bentuk-bentuk riil (nyata) dan banyak menggunakan cecek-cecek (titik-titik) serta cecek sawut (titik dan garis). Isen-isen pada ornamen penuh dengan cecek.
6. Sifat umum dari penduduk daerah pantai menyukai warna-warna yang cerah, seperti warna merah, kuning, hijau, biru, violet, dan oranye.


Dengan adanya faktor-faktor seperti tersebut maka motif batik di daerah Pekalongan selalu berubah dan saling meniru. Motif-motif baru diciptakan oleh para pembuat canting cap batik atau orang-orang yang khusus membuat motif untuk dijual pengusaha batik. Orang eropa yang pernah turut terjun dalam pembatikan dan berpengaruh adalah Van Zuylen. Van Zuylen terkenal dengan batiknya yang halus dengan motif bentuk tumbuhan yang realistis.

Tokoh lain yang merupakan orang keturunan Cina ialah Oei Tjoe Soen dari Kedungwuni yang terkenal dengan permainan cecek-cecek yang halus. Perkembangan batik Pekalongan sedemikian rupa dan cepat. Sampai saat ini batik Pekalongan mempunyai corak khusus, yaitu bermotif bentuk tumbuhan realistis dan jlamprang dengan warna-warna yang cerah. Dilihat dari segi pewarnaan Pekalongan mempunyai keunggulan dari daerah lain.

Contoh beberapa ornamen dari daerah Pekalongan antara lain sebagai berikut ;
1. Ornamen Garuda atau Sawat
Ragam hias bentuk garuda atau sawat pada susunan dasarnya masih ada persamaan dengan ornamen dari daerah Solo dan Yogyakarta yang terdiri atas dua sayap dan ekor, atau dua sayap, atau satu sayap saja. Namun bagian-bagian yang menyusun sawat itu sudah berubah bentuknya.

Pada pangkal dari sawat itu sudah mempunyai bagian dari tumbuhan. Pada sawat dengan dua sayap dan ekor berbentuk seperti dasar bunga. Demikian pula sawat dengan dua sayap. Pada sawat dengan satu sayap (lar) bentuknya menyerupai daun atau bunga. Bentuk yang menggambarkan ekor tidak lagi seperti bulu ekor merak, tetapi menyerupai daun yang tersusun. Bulu-bulu pada sayap dan pangkal sayap berbentuk seperti daun dan daun bunga. Isen pada ornamen garuda ini sedikit berupa cecek sawut dan sebagian besar diisi dengan cecek-cecek berupa lengkung dan cecek pitu.

Jadi garuda atau sawat bentuk Pekalongan ini tidak lagi sebagai stilasi dari burung garuda atau burung merak, melainkan lebih condong kepada bentuk dari bagian tumbuhan atau rangkaian dari daun-daun, daun bunga, dan bunganya. Terkadang pada bagian ekor dari sawat itu berbentuk bagian tumbuhan dan pada pangkalnya berbentuk semacam bunga tapak dara.

2. Ornamen Tumbuhan
Ornamen yang berbentuk tumbuhan sangat umum dan memegang peranan pada motif-motif batik dari Pekalongan dan sekitarnya. Ragam hias tumbuhan ini menurut bentuknya dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu bentuk yang tersusun semacam bunga, berbentuk bagian atau cabang dari tumbuhan dan berupa pohon.
a. Bentuk yang tersusun semacam bunga terdiri atas pusat berupa semacam bunga yang dikelilingi dengan daun bunga dan daun. Rangkaian susunan ini ada yang serupa sawat dan menyerupai rangkaian bunga yang riil.
b. Rangkaian yang berbentuk bagian atau cabang dari tumbuhan. Rangkaian ini terdiri atas batang, daun dan bunga.
c. Rangkaian yang berupa pohon lengkap dengan tinggi selebar kain dan terdiri atas susunan batang, dahan, daun dan bunga. Rangkaian ini terdapat pada kain batik corak Van Zuylen.

3. Ornamen Binatang
Ornamen binatang berupa kijang atau menjangan masih terdapat pada beberapa motif batik dari Pekalongan. Namun bentuknya sudah berubah yang kaki-kakinya berbentuk seperti daun kecil. Ornamen binatang ini juga terdapat jenis binatang yang berkaki banyak dan berekor panjang.

4. Ornamen Burung
Ornamen burung juga terdapat pada beberapa motif yang berupa motif burung phoenix dan burung dewata dengan ukuran kecil-kecil. Ornamen ini dikembangkan oleh Pengusaha batik keturunan Cina.

5. Ornamen Naga
Naga atau ular terdapat pada motif yang tergolong cuwiri Pekalongan.

6. Ornamen Meru
Ornamen Meru atau gunung Mahameru terdapat pada beberapa jenis motif terutama pada motif cuwiri. Meru Pekalongan ini bentuknya gemuk dan dirangkaikan dengan bagian tumbuhan, yaitu daunp-daun atau bagian dahan tumbuhan.
Oleh karena itu selalu dirangkaikan dengan daun-daun yang sepintas tidak tampak kalau bentuk tersebut adalah ornamen Meru. Rupanya jenis motif cuwiri Pekalongan yang mempunyai ornamen sawat, naga, meru, kijang, dan rangkaian tumbuhan adalah motif Solo dan Yogyakarta. Dalam penerapannya terjadi perubahan bentuk ornamen yang disesuaikan dengan selera dan gaya setempat, yaitu dengan stilasi tumbuhan.

C. Motif Isen Batik Pekalongan
Motif batik Pekalongan pada umunya diisi dengan titik-titik atau cecek. Cecek ini berupa cecek garis atau cecek pitu. Jarang sekali adanya cecek-sawut atau sawut, atau isen yang lain seperti cecek, cacah gori. Permainan dengan cecek ini kadang-kadang sangat menonjol, sehingga semua garis yang membentuk ornamen-ornamen dalam motif berupa cecek pula. Batik halus ”Oei Tjoe Soen” adalah salah satu contoh batik halus Pekalongan yang diolah dengan penuh cecek yang halus sekali.

D. Motif Jlamprang
Kita akan membicarakan motif jlamprang secara khusus karena dari beberapa pengamat batik motif ini diyakini dan diakui sebagai motif asli Pekalongan, bukan motif yang dipengaruhi daerah lain.
S.K. Sewan Susanto,S. menjelaskan teks dalam bukunya "Seni Kerajinan Batik Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Penelitian Batik dan Kerajinan, Lembaga dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI (1973) bahwa motif jlamprang di Pekalongan dipengaruhi oleh Islam. Artinya motif ini lahir dari perajin batik keturunan Arab yang beragama Islam. Adanya larangan dalam Islam menggambar binatang maupun manusia mendorong perjin batik Pekalongan menciptakan motif hias geometris. otif jlamprang menurut peneliti ini termasuk motif nitik dan tergolong dalam ragam hias geometris.

Dr. Kusnan Asa berpendapat bahwa jlamprang merupakan bentuk motif kosmologis dengan mengetengahkan pola ragam hias ceplokan bentuk lung-lungan dan bunga padma, ditengahnya disilang dengan gambar anak panah. Secara simbolis pola batik semacam itu menunjukkan makna tentang peran dunia kosmis yang hadir sejak agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa. Pola ceplokan yang distilirasi dalam bentuk dekoratif menunjukkan corak peningalan masa prasejarah yang kemudian menjadi waris agama Hindu-Budha.

Dalam aliran Hindu Tantrayana Syaiwapaksa yang lambangnya adalah Cakra merupakan simbol meditasi Dewa Syiwa. Sementara itu, Syaiwapaksa berarti senjata panah Dewa Syiwa. Bunga Padma merupakan lambang kehidupan dalam kepercayaan Hindu-Budha. Namun Lung dan padmasana biasanya merupakan lambang dari konsep mandala agama Hindu Syiwa yang beraliran Tantra.


0 komentar:

BATIK KLS 3

BATIK KLS 4

BATIK KLS 5

BATIK KLS 6

Pilih Bahasa

KALENDER

Arsip Blog

Matematika, 4,5,6

M-edukasi

www.m-edukasi.web.id blog guru
Sahabat Edukasi

Tentang Saya